kreatifnusantara.id — Kabar baik datang dari dunia UMKM Morowali Indonesia. Sebuah usaha kecil menengah di Kabupaten Morowali, Citra Organik Nusantara, kini berhasil menembus pasar ekspor dengan produk unggulan teh organik lokal yang diolah dari daun teh pegunungan Lembah Tokala.
Produk ini menjadi simbol kebangkitan sektor agribisnis berkelanjutan di kawasan timur Indonesia, dengan fokus pada bahan alami, ramah lingkungan, dan pemberdayaan petani lokal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Morowali tidak hanya dikenal dengan industri nikel, tapi juga punya potensi agrikultur hijau yang bernilai global,” ujar Ratna Wulandari, pendiri Citra Organik Nusantara.
Baca Juga: “Petani Bima Luncurkan Kebun Organik Terapung Inovatif Baru“
🍃 UMKM Morowali Produksi Dari Lereng Tokala ke Pasar Dunia
Kawasan Lembah Tokala di Morowali memiliki tanah vulkanik dan udara lembap, menjadikannya tempat ideal untuk budidaya tanaman teh organik.
Selama ini, masyarakat setempat menanam teh untuk konsumsi harian, tetapi Citra Organik melihat peluang besar untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekspor.
Sejak 2023, tim mereka mulai membangun pusat pengeringan dan fermentasi alami di Desa Bahodopi dengan standar sertifikasi organik internasional.
Kini, kapasitas produksi mencapai 1,2 ton per bulan, dengan pengiriman pertama ke Jepang, Australia, dan Jerman dijadwalkan akhir tahun ini.
“Pasar global mencari cita rasa alami dan proses berkelanjutan — dua hal yang menjadi kekuatan kami,” jelas Ratna.
🌿 UMKM Morowali Ungkapkan Proses Produksi Teh Organik
Citra Organik menggunakan pendekatan eco-farming, tanpa pupuk kimia maupun pestisida sintetis.
Proses pengeringan dilakukan dengan udara alami dan sinar matahari langsung, menghasilkan aroma khas yang lembut dan warna teh keemasan.
Berikut tahapan produksinya:
| Tahapan Produksi | Proses Utama | Nilai Tambah |
|---|---|---|
| Pemetikan Daun Muda | Hanya pucuk dua daun teratas | Rasa lebih lembut dan aroma alami |
| Fermentasi Alami | Menggunakan enzim alami dari daun | Warna teh stabil tanpa bahan tambahan |
| Pengeringan Matahari | Dilakukan selama 6–8 jam di suhu 30°C | Hemat energi dan ramah lingkungan |
| Pengemasan Vakum | Dalam kemasan biodegradable | Menjaga kesegaran hingga 12 bulan |
“Kami tidak sekadar menjual teh, tapi menghadirkan filosofi keseimbangan antara alam dan manusia,” ujar Farhan, manajer produksi.
🧪 Sertifikasi UMKM Morowali dan Standar Internasional
Untuk menembus pasar global, Citra Organik telah memperoleh berbagai sertifikasi penting:
- EU Organic Certification,
- USDA Organic, dan
- Halal MUI.
Selain itu, laboratorium uji di Makassar telah memastikan bahwa kandungan pestisida dalam teh organik Morowali nol persen, menjadikannya salah satu teh terbersih di Indonesia.
“Proses sertifikasi ini menegaskan komitmen kami terhadap transparansi dan kualitas,” jelas Ratna.
Kehadiran sertifikasi juga membuka peluang untuk menjangkau retailer premium Eropa dan pasar wellness global yang kini tumbuh pesat.
☕ Varian Produk dan Inovasi
Citra Organik Nusantara memproduksi empat varian utama teh:
- Teh Hijau Tokala – rasa segar, cocok untuk pagi hari.
- Teh Hitam Fermentasi Lembut – aroma kuat dengan aftertaste ringan.
- Teh Herbal Daun Kelor – kombinasi teh hijau dan daun kelor lokal.
- Teh Bunga Marigold – varian bunga organik untuk relaksasi.
Produk-produk ini dikemas dalam kantong biodegradable dan kaleng bambu anyaman lokal, yang menjadi ciri khas brand tersebut.
“Kami ingin setiap kemasan menjadi cerita tentang budaya dan alam Morowali,” kata Ratna dengan bangga.
🌏 Strategi Ekspor dan Kolaborasi
Dalam strategi ekspor, Citra Organik bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan RI melalui program Export Coaching for UMKM 2025.
Perusahaan ini juga menggandeng startup logistik hijau untuk memastikan pengiriman bebas karbon ke pelabuhan utama di Surabaya dan Makassar.
Rencananya, pada pertengahan 2026, Citra Organik akan membuka representative office di Singapura sebagai pusat distribusi Asia Tenggara.
“Kami berangkat dari desa, tapi berpikir global. Inovasi kami tetap berpijak pada akar lokal,” ujar Farhan.
👩🌾 Dampak Sosial untuk Petani Lokal
Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada ekspor, tapi juga meningkatkan taraf hidup petani lokal.
Lebih dari 120 keluarga petani kini tergabung dalam program “Farmers for Future”, yang memberikan pelatihan teknik pertanian organik dan manajemen hasil panen.
Petani mendapatkan insentif harga 25% lebih tinggi dibanding pasar tradisional.
Selain itu, Citra Organik mendirikan pusat pembelajaran ekotea bagi generasi muda desa untuk mempelajari agribisnis modern.
“Dulu kami hanya jual daun segar ke pasar. Sekarang kami ekspor ke luar negeri,” kata Herman, petani teh dari Bahodopi.
📈 Potensi Ekonomi dan Masa Depan
Data dari Dinas Perindustrian Sulawesi Tengah mencatat bahwa ekspor produk agrikultur organik dari provinsi ini meningkat 30% pada 2025, dengan teh menjadi salah satu komoditas utama.
Morowali diharapkan menjadi sentra teh organik timur Indonesia, bersaing dengan produk dari Jawa Barat dan Bali.
Citra Organik sendiri menargetkan penjualan ekspor mencapai Rp 12 miliar pada 2026, sekaligus memperluas pasarnya ke Timur Tengah dan Amerika Serikat.
“Kami tidak sekadar menjual minuman, tapi gaya hidup sehat dan berkelanjutan,” ujar Ratna menutup sesi wawancara.
Dengan kombinasi teknologi hijau, inovasi kemasan, dan pemberdayaan komunitas, UMKM Morowali telah membuktikan bahwa produk lokal Indonesia mampu menembus pasar global tanpa kehilangan identitas budayanya.
Baca Juga: “Industri Etanol Dinilai Beri Peluang Besar Bagi Petani dan UMKM“











