kreatifnusantara.id — Sekelompok petani muda di Bima, Nusa Tenggara Barat, memperkenalkan konsep baru pertanian ramah lingkungan lewat kebun organik terapung.
Dibangun di atas kolam buatan seluas 1.500 meter persegi, sistem ini memadukan teknologi hidroponik dan panel surya untuk menciptakan ekosistem tanam tanpa lahan tanah.
“Kami ingin membuktikan bahwa petani bisa berinovasi tanpa merusak alam. Air dan cahaya matahari cukup untuk hidupkan kebun,” ujar Suharno, ketua kelompok tani GreenWave Bima.
Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan kearifan lokal berpadu menghadirkan solusi atas tantangan keterbatasan lahan dan perubahan iklim.
Baca Juga: “Kampung Surya Bangka Terapkan Panel Surya Komunitas Energi“
Petani Bima Luncurkan Konsep Kebun Terapung Ramah Lingkungan
Kebun organik terapung ini menggunakan rakit berbahan bambu dan plastik daur ulang yang menopang wadah tanam hidroponik.
Setiap rakit dapat menampung hingga 200 tanaman sayur organik, seperti selada, kangkung, tomat, dan cabai rawit.
Sistem airnya menggunakan sirkulasi tertutup, di mana air yang mengalir kembali disaring dan digunakan ulang — menghemat hingga 80% konsumsi air dibanding pertanian konvensional.
Fitur utama kebun terapung GreenWave:
- 🌿 Sistem hidroponik nutrisi alami dari pupuk kompos cair.
- ☀️ Panel surya mini untuk menggerakkan pompa air dan sensor pH otomatis.
- ♻️ Struktur rakit daur ulang tahan air dan ramah lingkungan.
- 💧 Sirkulasi tertutup menjaga kualitas air dan kesuburan tanaman.
“Kami rancang agar tidak ada limbah. Semua air, pupuk, dan energi kembali ke sistem,” jelas Suharno.
Petani Bima Berikan Solusi bagi Lahan Terbatas dan Cuaca Ekstrem
Kabupaten Bima dikenal memiliki tantangan pertanian akibat tanah berbatu dan curah hujan tak menentu.
Kondisi ini sering membuat petani kehilangan masa tanam.
Dengan sistem terapung, tanaman bisa tumbuh stabil di atas air tanpa bergantung pada kondisi tanah.
“Kami memanfaatkan kolam ikan yang tidak produktif. Jadi lahan air kini punya nilai ekonomi baru,” ujar Nurasih, anggota kelompok tani.
Selain efisiensi lahan, sistem ini juga melindungi tanaman dari risiko banjir karena rakit akan ikut naik-turun bersama permukaan air.
Panel surya memastikan sistem pompa berjalan otomatis siang dan malam, membuat produksi tetap berkelanjutan meski saat listrik padam.
Dukungan Teknologi dan Pelatihan Lokal
Proyek ini mendapat dukungan teknis dari Universitas Mataram dan startup agritech lokal AgroFloat.id, yang membantu dalam perancangan sensor kelembapan serta pemantauan nutrisi digital.
Para petani dilatih untuk mengoperasikan aplikasi mobile sederhana, yang menampilkan grafik pertumbuhan tanaman dan kualitas air setiap hari.
“Petani bisa tahu kapan harus menambah nutrisi atau mengganti air, semua lewat ponsel,” jelas Yusuf Ananta, perwakilan AgroFloat.id.
Selain itu, tim universitas juga membantu meneliti kemungkinan integrasi biofilter alami dari eceng gondok, untuk menjaga kebersihan air dan menekan pertumbuhan lumut.
Manfaat Ekonomi dan Sosial bagi Warga Bima
Sejak uji coba dimulai awal tahun, hasil panen kebun terapung ini cukup menggembirakan.
Dalam satu siklus tanam 25 hari, satu modul rakit mampu menghasilkan 50 kilogram sayuran organik yang dijual ke pasar lokal dan restoran sehat di Kota Bima.
Pendapatan petani meningkat rata-rata 40% dibanding sistem konvensional.
Selain itu, kelompok GreenWave juga melibatkan ibu rumah tangga sebagai pengelola pascapanen, menciptakan lapangan kerja baru di sekitar kawasan kolam.
“Sekarang kami bisa panen lebih sering, air tetap bersih, dan hasilnya lebih banyak,” ujar Nurasih dengan semangat.
Hasil keuntungan sebagian dialokasikan untuk memperluas kebun dan menambah panel surya guna mendukung sistem energi mandiri di masa depan.
Ekowisata Edukasi dan Harapan Masa Depan
Melihat respon positif dari masyarakat, kebun terapung GreenWave kini juga dikembangkan sebagai destinasi ekowisata edukatif.
Sekolah-sekolah di sekitar Bima mulai mengajak siswa berkunjung untuk belajar cara menanam organik tanpa tanah dan mengenal konsep energi terbarukan.
“Anak-anak belajar langsung bagaimana teknologi bisa membantu petani menjaga alam,” ungkap Yusuf.
Pemerintah daerah berencana memperluas model ini ke kecamatan lain dengan dukungan dana CSR dari sektor energi terbarukan.
Selain memperkuat ketahanan pangan, kebun terapung diharapkan bisa menjadi simbol inovasi hijau Nusa Tenggara.
Refleksi – Dari Air, Tumbuh Harapan Baru
Kebun organik terapung di Bima bukan sekadar proyek pertanian, melainkan gerakan menuju masa depan yang lestari dan inklusif.
Melalui kombinasi teknologi sederhana, semangat gotong royong, dan cinta lingkungan, para petani membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berinovasi.
“Kami tak menunggu bantuan besar. Kami mulai dari air yang ada di depan rumah kami,” tutup Suharno dengan senyum.
Inisiatif seperti ini menjadi bukti bahwa transformasi hijau dapat dimulai dari akar rumput — ketika petani menjadi pionir perubahan menuju ekonomi berkelanjutan dan kehidupan yang lebih harmonis dengan alam.
Baca Juga: “UMKM Perempuan Luwu Utara Dilatih Pisahkan Uang Usaha dan Dapur“











