kreatifnusantara.id — Sebuah inisiatif energi terbarukan kini mulai berkembang di pesisir Bangka. Warga Kampung Surya, Desa Rebo, Kabupaten Bangka, berhasil menerapkan sistem panel surya komunitas energi yang memungkinkan warga menghasilkan listrik sendiri dari sinar matahari. Program ini menjadi tonggak baru bagi daerah pesisir dalam mewujudkan kemandirian energi berbasis masyarakat.
Inisiatif tersebut digagas oleh Komunitas Energi Hijau Bangka bersama Dinas ESDM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan dukungan teknis dari lembaga riset lokal. Proyek ini sudah beroperasi sejak Oktober 2025 dan kini menyuplai kebutuhan listrik bagi 75 rumah, satu balai desa, dan pusat kegiatan masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa transisi energi bisa dimulai dari kampung. Dengan panel surya bersama, warga tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga produsen listrik,” ujar Rudi Saputra, ketua Komunitas Energi Hijau Bangka.
Baca Juga: “PureEarth Bandung Kenalkan Sabun Zero-Waste Ramah Kulit“
Kampung Surya Bangka Terapkan Energi Bersih dari Warga untuk Warga
Sistem panel surya komunitas ini menggunakan kapasitas total 120 kilowatt-peak (kWp) yang dipasang di atap rumah warga dan area publik. Energi yang dihasilkan disimpan di baterai lithium dan dialirkan ke jaringan mikro (microgrid) yang dikelola secara kolektif.
Melalui sistem ini, warga dapat berbagi listrik secara merata sesuai kebutuhan rumah tangga masing-masing. Saat siang hari, kelebihan daya disimpan atau disalurkan ke fasilitas umum seperti penerangan jalan, sekolah, dan masjid.
“Dulu listrik sering padam saat malam karena beban tinggi. Sekarang, pasokan jauh lebih stabil dan hemat,” kata Sulastri, salah satu warga yang rumahnya menjadi lokasi panel surya.
Selain itu, setiap rumah kini memiliki aplikasi sederhana di ponsel yang menampilkan data konsumsi dan produksi energi harian. Transparansi ini mendorong warga lebih bijak dalam menggunakan listrik dan menjaga peralatan agar efisien.
Kampung Surya Bangka Ungkap Dampak Ekonomi dan Sosial
Program Kampung Surya membawa dampak ekonomi nyata bagi warga pesisir. Sebelum proyek ini berjalan, sebagian warga mengeluarkan biaya listrik hingga Rp300.000 per bulan. Kini, setelah sistem surya terpasang, mereka hanya membayar iuran komunitas sekitar Rp80.000 untuk pemeliharaan alat.
Dana tersebut digunakan untuk perawatan baterai, penggantian inverter, dan insentif bagi teknisi lokal. “Semua keuntungan kembali ke warga. Kami tidak hanya hemat listrik, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Rudi.
Selain penghematan biaya, warga juga mulai memanfaatkan energi surya untuk usaha kecil, seperti pengeringan hasil laut, pendingin ikan tangkapan, dan produksi es balok mini. Beberapa kelompok perempuan bahkan membuka usaha es sirup herbal Bangka menggunakan freezer tenaga surya.
“Dengan listrik yang stabil, kami bisa berproduksi lebih lama tanpa takut biaya membengkak,” tutur Yanti Siregar, pengelola kelompok usaha wanita di Kampung Surya.
Kolaborasi Multi-Pihak
Keberhasilan proyek ini tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Dinas ESDM membantu penyediaan perangkat awal melalui program Energi Bersih untuk Desa Mandiri. Sementara itu, mahasiswa dari Politeknik Negeri Bangka Belitung mendampingi warga dalam hal instalasi dan pemeliharaan alat.
“Pendekatan kami adalah edukasi, bukan hanya bantuan alat. Warga kami latih agar bisa merawat panel sendiri dan membaca indikator teknis,” jelas Dr. Hendri Fadillah, dosen teknik elektro yang terlibat dalam proyek.
Pemerintah daerah menilai Kampung Surya sebagai model ideal penerapan energi terbarukan berbasis partisipasi warga. “Ini bentuk nyata ekonomi hijau di tingkat lokal,” ujar Kepala Dinas ESDM Babel, Rudiansyah.
Menjadi Inspirasi Kampung Lain
Melihat keberhasilan Kampung Surya, sejumlah desa lain di Bangka Selatan dan Belitung mulai tertarik mengadopsi model serupa. Beberapa di antaranya telah mengajukan proposal bantuan panel surya komunitas ke pemerintah provinsi.
Menurut Rudi, sistem energi bersama ini sangat cocok untuk daerah terpencil atau pesisir yang belum memiliki jaringan listrik kuat. “Panel surya mudah dirawat, tidak menimbulkan polusi, dan bisa menumbuhkan rasa gotong royong di antara warga,” ujarnya.
Untuk memperluas dampak, Komunitas Energi Hijau Bangka kini mengadakan pelatihan teknisi surya bagi pemuda setempat. Mereka diajari cara memasang panel, memeriksa arus listrik, dan mengganti baterai. Harapannya, tenaga muda ini bisa membuka jasa instalasi surya mandiri di daerah lain.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski sukses, proyek Kampung Surya masih menghadapi beberapa kendala teknis. Salah satunya adalah cuaca mendung yang kadang menurunkan produksi listrik hingga 20 persen. Untuk mengatasi hal ini, tim pengelola berencana menambah sistem hybrid dengan turbin angin kecil untuk mendukung pasokan malam hari.
Selain itu, biaya perawatan baterai lithium yang cukup tinggi menjadi tantangan jangka panjang. Namun, Komunitas Energi Hijau Bangka tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan teknologi lokal untuk mendaur ulang baterai bekas menjadi modul baru.
“Tujuan kami bukan hanya mandiri energi, tapi juga mandiri teknologi,” kata Hendri.
Pemerintah provinsi menyatakan akan memperluas program ini ke 15 desa lain dalam dua tahun mendatang. Dengan cara ini, Bangka diharapkan dapat menjadi provinsi pertama di Sumatera yang mencapai 25 persen penggunaan energi bersih di tingkat komunitas.
Menuju Masa Depan Energi Hijau Bangka
Kampung Surya menjadi bukti nyata bahwa perubahan menuju energi bersih tidak harus dimulai dari kota besar. Dengan semangat gotong royong, pendidikan teknologi, dan dukungan pemerintah, masyarakat desa pun bisa berperan aktif dalam transisi energi nasional.
“Panel surya ini bukan sekadar alat, tapi simbol kemandirian kami. Kami buktikan bahwa energi bersih bisa dihasilkan dari tangan warga sendiri,” tutup Rudi dengan bangga.
Kisah Kampung Surya menjadi inspirasi baru bagi Indonesia: bahwa masa depan energi hijau bisa dimulai dari kampung kecil yang berani bermimpi besar.
Baca Juga: “Cerita Warga Desa Rengel Olah Sampah Jadi Produk Pertanian“










