kreatifnusantara.id — Di Kabupaten Wakatobi Regency, Sulawesi Tenggara, sebuah desa yang mengusung nama Desa AgroSehat Wakatobi mulai menerapkan model budidaya rumput laut lokal sebagai upaya diversifikasi mata pencaharian masyarakat pesisir. Inisiatif ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pengembangan rumput laut sebagai komoditas unggulan dan meningkatkan kesejahteraan petani laut.
Wakil Kepala Desa AgroSehat menyebut bahwa kawasan perairan di Wakatobi memiliki kondisi alam yang sangat mendukung budidaya rumput laut jenis Eucheuma spinosum dan jenis lainnya, dengan visibilitas air tinggi dan lahan pesisir yang cukup stabil. Berdasarkan data kantor Dinas Perikanan, panen tahun 2024 di lokasi ini mencapai ratusan ton.
Dengan demikian, budidaya rumput laut bukan sekadar aktivitas rumah tangga, melainkan menjadi peluang ekonomi yang dapat diorganisir secara kolektif. Desa AgroSehat pun menargetkan pembentukan kelompok pembudidaya dan unit pengolahan awal bersama untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Baca Juga: “Komunitas EcoFarm Samarinda Uji Tanam Cabai Vertikal Organik“
Desa AgroSehat Wakatobi Terapkan Sistem Budidaya dan Teknologi Lokal
Metode yang diterapkan Desa AgroSehat mengikuti standar budidaya rumput laut yang sudah diterapkan di Wakatobi: menggunakan tali bentang (long‐line) di perairan dangkal dengan kedalaman ideal sekitar 2–4 meter. Bibit rumput laut ditanam di tali sepanjang 30-40 meter dengan jarak simpul tertentu untuk memaksimalkan tumbuh.
Teknik Budidaya di Desa AgroSehat
- Persiapan bibit unggul melalui unit pembibitan lokal yang terintegrasi dengan balai budidaya.
- Penanaman pukat/ tali bentang di zona budidaya yang memiliki arus moderat agar nutrien laut tetap masuk — bebas dari abrasi.
- Pemeliharaan rutin: pengikatan ulang bibit, pengangkatan gulma laut, dan pengecekan kondisi tali setiap 45 hari.
- Panen setiap 45–60 hari kemudian dikeringkan dan dijual ke koperasi lokal.
Desa AgroSehat juga menerapkan inovasi ramah lingkungan seperti pelampung dari batok kelapa sebagai pengganti botol plastik konvensional. Hal ini sesuai dengan strategi nasional yang menetapkan Wakatobi sebagai lokasi modeling budidaya rumput laut seluas 51,25 hektare.
Manfaat Ekonomi & Sosial Budidaya Rumput Laut
| Aspek | Dampak di Desa AgroSehat |
|---|---|
| Peningkatan pendapatan | Pembudidaya melaporkan tambahan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per siklus |
| Mobilitas ekonomi | Masyarakat pesisir beralih dari nelayan tangkap ke budidaya terencana |
| Keterlibatan kelompok | Terbentuk kelompok‐kelompok pembudidaya, koperasi pengeringan dan pemasaran |
| Keberlanjutan lingkungan | Penggunaan material alami dan pengurangan plastik laut |
Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut bahwa dengan model ini produksi rumput laut di Wakatobi bisa mencapai nilai produksi kering Rp 14,4 miliar per tahun.
Desa AgroSehat Wakatobi Dapat Dukungan Pemerintah, Akademisi, dan Komunitas
Program budidaya rumput laut di Desa AgroSehat tak berjalan sendiri. Pembangunan infrastruktur penunjang budidaya ini juga memperoleh dukungan dari pemerintah daerah, akademisi dari lembaga vokasi kelautan, dan organisasi lingkungan. Coalition seperti WWF Indonesia telah ikut serta memetakan tantangan budidaya rumput laut di Wakatobi agar lebih berkelanjutan.
Bentuk Kolaborasi Lokal
- Pemerintah membantu izin kawasan budidaya dan sarana, seperti perahu ketinting dan pembibitan.
- Akademisi menyediakan pelatihan teknik budidaya dan analisis kualitas air.
- Kelompok masyarakat lokal memproduksi tali bentang dari bahan alami seperti ijuk atau rotan untuk menggantikan plastik.
Dengan sinergi ini, Desa AgroSehat menciptakan ekosistem budidaya rumput laut yang lebih modern dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat pesisir dalam pengelolaan komoditas laut.
Desa AgroSehat Wakatobi Terapkan Tantangan dan Strategi Ke Depan
Walau begitu, tidak semua berjalan mulus: harga jual rumput laut kering sempat fluktuatif, penyakit “ais‐ais” menyerang bibit, dan kualitas bibit masih menjadi usia pembelajaran.
Strategi Pengembangan Ke Depan
- Diversifikasi jenis rumput laut agar tidak hanya tergantung satu jenis.
- Peningkatan kapasitas unit pengolahan nilai tambah (agar‐agar, produk kosmetik, suplemen).
- Penguatan akses pasar nasional dan ekspor komponen rumput laut.
- Penelitian kelanjutan oleh perguruan tinggi agar produksi lebih efisien dan tahan serangan hama.
Kepala Dinas Perikanan Wakatobi mencatat bahwa produksi 251,70 ton rumput laut basah telah dipanen di 2024 — sebuah langkah awal yang menjanjikan.
Kesimpulan
Pendekatan Desa AgroSehat Wakatobi dalam mengembangkan budidaya rumput laut lokal menawarkan gambaran masa depan perkonomian pesisir yang modern, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan memadukan tradisi laut, teknologi sederhana dan nilai ekonomi jelas, rakyat pesisir punya peluang baru untuk hidup lebih mandiri.
Inisiatif ini tidak hanya soal produksi komoditas laut — melainkan soal transformasi sosial dan ekonomi komunitas pesisir menjadi pelaku aktif dalam rantai nilai global rumput laut.
Baca Juga: “Pupuk Organik Gapoktan Joyoboyo Kabupaten Kediri Siap Dipasarkan, Tinggal Tunggu Izin Edar dari Kementan RI“











