kreatifnusantara.id — Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan urban dan pertanian ramah lingkungan, Komunitas EcoFarm Samarinda kini tengah menguji sistem tanam vertikal organik cabai pada lokasi percobaan di perkotaan Samarinda, Kalimantan Timur. Program ini dirancang untuk memanfaatkan lahan terbatas sekaligus meminimalkan penggunaan pestisida sintetis.
Para penggiat urban-farming yang tergabung dalam EcoFarm Samarinda menjelaskan bahwa metode tanam vertikal memungkinkan menanam cabai secara bertingkat, memaksimalkan efisiensi ruang dan kontrol lingkungan. “Kita menghadapi tantangan lahan di kota besar seperti Samarinda. Sistem vertikal jadi solusi agar pertanian tetap produktif tanpa membutuhkan hamparan besar,” ujar Ketua EcoFarm Samarinda, Hidayat Nugroho.
Melalui percobaan ini, komunitas menargetkan hasil cabai organik siap panen dalam waktu sekitar 60 hari dari masa tanam, dengan fokus pada varietas toleran cuaca tropis dan tekanan penyakit minimal.
Baca Juga: “UMKM Manokwari Kembangkan Sabun Herbal Rempah Tradisional“
Komunitas EcoFarm Samarinda Rangkaian Teknik dan Keunggulan Tanam Vertikal Cabai
Metode yang dipakai oleh EcoFarm Samarinda terdiri dari rak bertingkat, media tanam campuran cocopeat dan kompos sawit, sistem irigasi tetes otomatis, serta aplikasi pupuk organik cair dari limbah dapur. Teknik-teknik ini digabung agar produksi menjadi efisien dan ramah lingkungan.
Keunggulan utama program
- Pemakaian rak vertikal memungkinkan 5-10 baris tanam dalam ruang satu petak kecil.
- Teknik organik tanpa pestisida sintetis—menggunakan pestisida nabati dari bawang putih atau tanaman mimba.
- Irigasi dan ventilasi terkontrol, meminimalkan risiko jamur dan penyakit kelembapan yang umum pada cuaca lembap seperti di Samarinda.
- Panen cepat & berkelanjutan, sehingga memungkinkan distribusi ke pasar lokal atau komunitas dengan frekuensi lebih tinggi.
Hidayat menambahkan bahwa sistem ini juga meningkatkan edukasi bagi warga kota—mereka dapat melihat sendiri proses tanam, panen, hingga pengemasan, sekaligus mengenal pertanian organik urban.
Perbandingan Sistem Konvensional vs Vertikal Organik Cabai
| Aspek | Sistem Tanam Konvensional | Sistem Vertikal Organik (EcoFarm Samarinda) |
|---|---|---|
| Lahan digunakan | Hamparan horizontal luas | Lahan vertikal terbatas |
| Penggunaan pestisida sintetis | Umumnya ada | Gratis pestisida sintetis |
| Waktu panen rata‐rata | ± 70-80 hari | ± 55-65 hari |
| Produksi per m² | Rendah | Lebih tinggi karena bertingkat |
| Risiko penyakit kelembapan | Tinggi (daerah tropis) | Terkendali melalui rak dan ventilasi |
Data awal menunjukkan bahwa hasil panen cabai dari sistem vertikal EcoFarm setara atau sedikit lebih tinggi daripada sistem biasa, tetapi dengan penggunaan air dan pestisida yang jauh lebih rendah.
Kolaborasi Komunitas EcoFarm, Pemerintah dan Pemuda
Program ini tidak hanya dikerjakan oleh komunitas saja. EcoFarm Samarinda bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Samarinda, kampus lokal, serta kelompok pemuda untuk menyebarkan praktik pertanian urban ini ke lingkungan perumahan dan sekolah.
Bentuk kolaborasi
- Pelatihan untuk warga sekitar dan siswa sekolah tentang kebun vertikal serta pertanian organik.
- Program demo kebun vertikal di sekolah dan kampus sebagai bahan ajar.
- Kerjasama dengan UMKM lokal untuk pengemasan dan pemasaran cabai organik ke pasar kota.
- Kegiatan komunitas rutin monitoring tanaman dan berbagi hasil ke warga untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal.
Kepala Dinas Pertanian Kota Samarinda, Ir. Linda Maulana, mengatakan bahwa program seperti ini penting sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan kota: “Bagaimana kota seperti Samarinda bisa mendukung produksi pangan lokal, terutama sayuran yang mudah rusak seperti cabai? Inilah salah satu jalannya.”
Komunitas EcoFarm Dampak, Antusiasme & Tantangan
Antusiasme warga cukup tinggi. Banyak warga perkotaan yang awalnya tidak memiliki pengalaman bercocok tanam kemudian mencoba kebun vertikal sebagai hobi sekaligus memperoleh hasil panen. “Saya bahkan panen cabai sendiri dari rak rumah dan jual ke tetangga kecil-kecilan,” kata salah seorang warga peserta, Mira (34 tahun).
Namun, EcoFarm Samarinda juga mencatat beberapa tantangan: cuaca kota yang sangat lembap bisa meningkatkan jamur, sementara biaya rak dan irigasi awal masih relatif tinggi untuk skala kecil. Oleh karena itu, komunitas menargetkan skema “kebun vertikal rendah biaya” untuk rumah tangga selama 2026.
Rencana pengembangan
- Pengembangan kit kebun vertikal rumahan dengan biaya terjangkau.
- Edukasi digital interaktif (video tutorial) untuk masyarakat luas.
- Pilot kebun vertikal di 10 lingkungan perumahan di Samarinda.
- Surat rekomendasi ke pemerintah kota untuk insentif kebun vertikal bagi warga.
Dengan rangkaian aktivitas tersebut, komunitas berharap kebun vertikal organik cabai bukan hanya menjadi tren, tetapi menjadi bagian nyata dari pola makan sehat dan ekonomi lokal.
Kesimpulan
Inisiatif Komunitas EcoFarm Samarinda dalam menguji dan menerapkan sistem tanam vertikal organik cabai menunjukkan bahwa pertanian urban bisa berjalan efektif bahkan di kota tropis seperti Samarinda. Dengan kolaborasi, teknologi sederhana, dan komitmen lingkungan, program ini menjadi contoh nyata bahwa pangan lokal dan pertanian kota bukan sekadar impian — tetapi bisa menjadi kenyataan.
Jika Anda tertarik memulai kebun vertikal sendiri atau ingin bergabung dengan komunitas, saya bisa bantu cari kontak EcoFarm Samarinda atau panduan kit kebunnya.
Baca Juga: “Globalisasi dan Alam Gayo: Antara Kemajuan dan Ancaman Hijau“











