kreatifnusantara.id — Inovasi pendidikan kembali hadir dari Sekolah Alam Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang kini memperkenalkan program “Padi Air Organik”, sebuah metode pembelajaran pertanian berkelanjutan di lahan basah. Program ini mengajak siswa untuk menanam padi tanpa pupuk kimia, sekaligus memahami pentingnya konservasi air dan ekosistem sawah alami.
Menurut Rini Marlina, Kepala Sekolah Alam Banjarbaru, kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi juga merasakan langsung bagaimana alam bekerja,” ujarnya saat ditemui di area pembelajaran terbuka sekolah.
Program ini menjadi bagian dari kurikulum Eco Learning Semester 2025, yang berfokus pada keterampilan hidup hijau dan praktik pertanian ramah lingkungan.
Baca Juga: “Ahli Gizi Jelaskan Manfaat Yogurt Organik untuk Pencernaan“
Sekolah Alam Banjarbaru Ajarkan Inovasi Pertanian di Tengah Kota
Metode Padi Air Organik yang diterapkan Sekolah Alam Banjarbaru menggunakan sistem tanam berlapis air dangkal. Model ini tidak memerlukan lahan luas, sehingga bisa diterapkan di lingkungan perkotaan.
Langkah Penerapan Program
- Persiapan media tanam: siswa menyiapkan wadah air dangkal dan tanah organik.
- Pemilihan bibit lokal: padi varietas Siam Banjar digunakan karena adaptif terhadap air dan ramah lingkungan.
- Penanaman kolaboratif: siswa bekerja dalam kelompok kecil, menanam bibit secara bergantian.
- Pemeliharaan alami: air diganti secara berkala, dan hama dikendalikan dengan daun mimba serta larutan bawang putih.
- Panen simbolis: dilakukan setiap tiga bulan sekali, diikuti dengan kegiatan memasak nasi organik bersama guru dan orang tua.
Model pembelajaran ini menjadi sarana integratif antara sains, ekologi, dan tanggung jawab sosial, sehingga siswa lebih memahami hubungan antara alam dan kebutuhan manusia.
Sekolah Alam Banjarbaru: Perbandingan Padi Air Organik vs Konvensional
| Aspek | Padi Air Organik | Padi Konvensional |
|---|---|---|
| Media Tanam | Air dangkal + tanah organik | Sawah tanah padat |
| Pupuk | Kompos alami, tanpa kimia | Pupuk sintetis |
| Hama | Dikendalikan dengan bahan alami | Pestisida kimia |
| Dampak Lingkungan | Minim limbah & hemat air | Potensi polusi tanah |
| Hasil Panen | Lebih sedikit tapi sehat | Lebih banyak tapi kurang alami |
Menurut Rini, yang paling penting bukan hasil panennya, melainkan proses pembelajaran dan pemahaman anak terhadap ekosistem. “Kami mengajarkan mereka bahwa pertanian organik bukan sekadar teknik, tetapi juga cara hidup yang menghormati bumi,” jelasnya.
Pembelajaran Interaktif dan Kolaboratif
Kegiatan menanam padi ini dilakukan setiap Jumat pagi, dikenal sebagai sesi Green Friday. Murid-murid dari berbagai jenjang terlibat aktif, mulai dari menyiapkan wadah, mengukur pH air, hingga mendata pertumbuhan batang padi setiap minggu.
Kegiatan Pendukung di Sekolah Alam Banjarbaru
- Jurnal Tumbuh Padi: siswa mencatat perubahan tinggi batang, warna daun, dan kondisi air.
- Workshop Mini Kompos: siswa belajar membuat pupuk alami dari sisa makanan kantin.
- Kelas Ilmu Air: guru menjelaskan siklus air dan pentingnya menjaga sumber mata air lokal.
- Pasar Hijau Mini: hasil panen dijual dalam acara sekolah untuk mengajarkan kewirausahaan hijau.
Program ini juga melibatkan komunitas orang tua dan warga sekitar yang membantu menyediakan bahan organik dan wadah tanam daur ulang.
Dukungan Sekolah Alam Banjarbaru Dengan Komunitas dan Pemerintah Lokal
Program Sekolah Alam Banjarbaru mendapatkan apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pertanian Kota Banjarbaru karena dinilai mampu menjadi model edukasi ekologi bagi sekolah lain.
Wali Kota Banjarbaru, H. Aditya Mufti Ariffin, turut meninjau kegiatan tersebut. “Inisiatif ini sejalan dengan visi kota hijau. Kami ingin Banjarbaru menjadi contoh pendidikan berbasis lingkungan di Kalimantan Selatan,” katanya.
Pemerintah juga menyediakan bantuan bibit organik dan alat ukur kelembapan digital sederhana agar siswa memahami pendekatan ilmiah di balik pertanian.
Bentuk Dukungan Pemerintah
- Bibit dan pupuk organik lokal dari Balai Benih Banjarbaru.
- Pelatihan guru pertanian berkelanjutan selama dua bulan.
- Pemberian sertifikat Eco School sebagai penghargaan inovasi lingkungan.
- Promosi digital melalui situs resmi kota untuk menarik perhatian publik.
Dampak Positif bagi Siswa
Program Padi Air Organik terbukti meningkatkan rasa tanggung jawab, empati terhadap alam, dan kesadaran pangan sehat di kalangan siswa.
Menurut guru IPA, Dian Fitriani, siswa yang mengikuti program ini menunjukkan peningkatan konsentrasi dan semangat belajar. “Anak-anak jadi lebih fokus dan tenang setelah berkegiatan di air dan tanah. Mereka belajar bahwa alam bisa menenangkan,” ujarnya.
Selain itu, sekolah juga melaporkan penurunan penggunaan plastik hingga 40% karena sebagian wadah tanam dibuat dari botol bekas dan ember daur ulang.
Nilai Karakter yang Ditanamkan
- Disiplin dan tanggung jawab terhadap tugas harian.
- Rasa syukur terhadap hasil alam.
- Kemampuan bekerja sama dalam kelompok.
- Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah.
Menuju Model Sekolah Hijau Mandiri
Melihat keberhasilan awal program ini, Sekolah Alam Banjarbaru berencana mengembangkan area green lab yang akan menampung berbagai eksperimen ramah lingkungan seperti hidroponik air hujan, biopori, dan pengolahan limbah dapur.
“Visi kami sederhana: sekolah menjadi tempat anak belajar hidup selaras dengan alam,” kata Rini. Ia juga berharap inisiatif ini menginspirasi sekolah lain di Indonesia untuk menanamkan kesadaran hijau sejak usia dini.
Dengan semangat kolaboratif antara guru, siswa, dan masyarakat, Sekolah Alam Banjarbaru kini tidak sekadar menjadi tempat belajar, melainkan juga pusat gerakan kecil menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Baca Juga: “Sumbar Dorong Hilirisasi Peternakan Lewat Pupuk Organik“











