kreatifnusantara.id — Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kembali mengumumkan hasil riset terbaru di bidang pangan lokal. Kali ini, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKKMK) menyoroti kacang hijau (Vigna radiata) sebagai bahan pangan dengan manfaat luas untuk kesehatan tubuh.
“Kacang hijau adalah sumber gizi tinggi yang selama ini diremehkan. Padahal, kandungan proteinnya sangat ideal untuk diet seimbang,” ujar dr. Niken Puspitasari, M.Sc, peneliti utama riset tersebut.
Penelitian dilakukan selama enam bulan dengan melibatkan 120 responden dewasa di Yogyakarta.
Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi rutin kacang hijau dapat meningkatkan energi, memperbaiki sistem pencernaan, dan menurunkan kadar kolesterol jahat.
Baca Juga: “Komunitas AgroInovasi Kudus Galang Edukasi Petani Muda Kreatif“
Riset UGM Yogyakarta Ungkap Kandungan Nutrisi Lengkap untuk Energi Tubuh
Kacang hijau dikenal sebagai bahan pangan rendah lemak, tinggi protein, dan kaya mineral penting.
Setiap 100 gram kacang hijau mengandung:
- 🌾 Protein: 24 gram
- 🥗 Serat: 7 gram
- 💪 Zat besi dan magnesium: membantu pembentukan darah
- 💧 Asam folat dan vitamin B kompleks: penting untuk metabolisme energi
UGM menemukan bahwa konsumsi dua porsi bubur kacang hijau per minggu cukup untuk meningkatkan kadar hemoglobin pada individu yang sering merasa lemas.
“Kandungan asam amino dan vitamin B1 di dalamnya membantu tubuh memecah karbohidrat menjadi energi lebih cepat,” jelas dr. Niken.
Temuan ini membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional berbasis kacang hijau untuk masyarakat luas.
Riset UGM Yogyakarta Ungkap Peran Kacang Hijau bagi Pencernaan dan Detoksifikasi
Selain energi, kacang hijau juga terbukti efektif menjaga sistem pencernaan.
Serat alaminya membantu proses buang air lancar dan menjaga mikrobiota usus tetap seimbang.
Kandungan pektin dan oligosakarida dalam bijinya bekerja seperti prebiotik alami, mendukung pertumbuhan bakteri baik.
Penelitian UGM juga menemukan bahwa konsumsi kacang hijau selama empat minggu dapat menurunkan kadar toksin amonia di usus hingga 25%.
Hal ini memperbaiki fungsi hati serta membantu proses detoksifikasi alami tubuh.
“Kacang hijau berperan sebagai penyaring alami tubuh, menjaga keseimbangan organ pencernaan,” ungkap Niken.
Dengan manfaat ini, para peneliti merekomendasikan kacang hijau sebagai bagian dari pola makan harian, terutama bagi masyarakat urban dengan pola makan tinggi lemak dan rendah serat.
Riset UGM Yogyakarta Ungkap Efek Kacang Hijau terhadap Imun dan Kesehatan Jantung
Bagian lain dari riset ini meneliti kaitan kacang hijau dengan daya tahan tubuh.
Kandungan flavonoid dan polifenol terbukti mampu menurunkan risiko inflamasi ringan dan memperkuat imun.
Responden yang rutin mengonsumsi ekstrak kacang hijau menunjukkan peningkatan aktivitas sel imun sebesar 17%.
Selain itu, kombinasi magnesium dan kalium membantu menstabilkan tekanan darah dan melancarkan sirkulasi jantung.
Efeknya serupa dengan konsumsi sayuran hijau, namun dengan rasa dan tekstur yang lebih mudah diterima anak-anak.
“Kacang hijau bisa menjadi alternatif sehat bagi masyarakat yang sulit mengonsumsi sayuran setiap hari,” ujar Niken.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Riset UGM Yogyakarta Uji Inovasi Produk Pangan dari Kacang Hijau
UGM kini bekerja sama dengan Pusat Inovasi Agroindustri Yogyakarta untuk mengembangkan produk siap saji dari kacang hijau.
Beberapa inovasi yang sedang diuji coba meliputi:
- 🍪 Biskuit tinggi protein untuk anak sekolah.
- 🥤 Minuman serbuk kacang hijau fermentasi tanpa gula tambahan.
- 🍲 Sereal instan kaya zat besi untuk ibu hamil dan lansia.
Produk ini dirancang agar tetap praktis namun mempertahankan nutrisi asli kacang hijau.
“Kami ingin menjadikan kacang hijau ikon superfood lokal Indonesia,” ujar prof. Dwi Rahmawati, Ph.D, koordinator riset pangan UGM.
Selain di pasar domestik, tim riset menargetkan ekspor ke negara Asia Timur yang mulai tertarik dengan tren makanan fungsional berbasis bahan nabati tropis.
Cara Konsumsi Kacang Hijau yang Tepat
Meski bermanfaat, cara pengolahan menentukan efektivitas nutrisi kacang hijau.
Riset UGM memberikan panduan konsumsi sehat:
- Rendam kacang hijau selama 4–6 jam sebelum dimasak agar enzim anti-nutrisi terurai.
- Hindari gula berlebih saat membuat bubur, gunakan pemanis alami seperti madu.
- Konsumsi hangat tanpa santan berlebihan, agar tidak menambah lemak jenuh.
- Variasikan dengan sayur atau buah untuk keseimbangan gizi harian.
Selain dikukus atau direbus, kacang hijau juga bisa diolah menjadi smoothie atau campuran salad.
“Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara rasa, nutrisi, dan cara masak alami,” tambah Dwi.
Harapan Peneliti – Pangan Lokal untuk Dunia
Riset ini bukan hanya tentang gizi, tetapi juga pemberdayaan pangan lokal.
UGM menilai bahwa bahan seperti kacang hijau bisa menjadi jawaban atas tantangan ketahanan pangan nasional.
“Kita tidak harus selalu bergantung pada impor kedelai atau gandum. Indonesia punya sumber protein lokal yang luar biasa,” tutur Dwi.
Dengan riset berkelanjutan dan dukungan industri, kacang hijau berpotensi menjadi produk unggulan ekspor gizi Indonesia.
Selain ramah lingkungan, tanaman ini mudah tumbuh di berbagai daerah dan tidak memerlukan pupuk kimia berlebih.
Refleksi – Superfood dari Tanah Sendiri
Kacang hijau telah lama dikenal sebagai bahan makanan rakyat, kini mendapat pengakuan ilmiah melalui riset mendalam UGM.
Ia bukan sekadar bahan bubur tradisional, melainkan sumber energi, serat, dan protein yang seimbang untuk semua usia.
Dengan penelitian berkelanjutan dan inovasi industri pangan, kacang hijau berpotensi menjadi superfood lokal yang mendunia — simbol bahwa kesehatan dan ketahanan pangan bisa berawal dari biji kecil yang tumbuh di tanah Indonesia.
Baca Juga: “Dosen UM Serahkan Mesin Pencacah Sampah Organik ke Lapas Perempuan Kelas IIA Kota Malang“











