kreatifnusantara.id – Sebuah penelitian dari Peneliti Solo Temukan yaitu tim Pusat Riset Pangan dan Gizi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menemukan bahwa tempe kedelai memiliki potensi signifikan dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Temuan ini diperoleh setelah serangkaian uji laboratorium dan observasi terhadap 50 responden dengan kadar kolesterol tinggi selama enam minggu.
“Tempe bukan hanya sumber protein nabati, tapi juga memiliki senyawa bioaktif yang bekerja seperti obat alami,” ujar Dr. Ratri Wulandari, peneliti utama tim gizi UNS.
Penelitian tersebut dilakukan dengan membandingkan konsumsi tempe kedelai alami dan makanan olahan kedelai lainnya seperti tahu dan susu kedelai.
Hasilnya menunjukkan, responden yang mengonsumsi 100 gram tempe setiap hari mengalami penurunan kolesterol total hingga 12%, serta peningkatan kadar kolesterol baik (HDL) sebesar 8%.
Baca Juga: “HerbiCare Bali Ciptakan Toner Herbal Aroma Rempah Nusantara“
Peneliti Solo Temukan Senyawa Bioaktif di Balik Khasiat Tempe
Menurut Dr. Ratri, kandungan utama yang berperan aktif adalah isoflavon dan peptida bioaktif hasil fermentasi kedelai oleh kapang Rhizopus oligosporus.
Kedua zat ini memiliki fungsi antioksidan dan antiinflamasi, yang membantu menghambat penumpukan lemak jahat (LDL) dalam pembuluh darah.
Selain itu, tempe juga mengandung serat larut (soluble fiber) yang berperan dalam mengikat kolesterol dan mengeluarkannya melalui sistem pencernaan.
Beberapa kandungan penting dalam 100 gram tempe kedelai fermentasi alami:
- 🍽️ Protein nabati: 19 gram
- 🌾 Serat larut: 2,5 gram
- 🧬 Isoflavon aktif: 25–35 mg
- 💚 Vitamin B12 alami: 1,2 mcg
“Kombinasi isoflavon dan peptida hasil fermentasi ini tidak dimiliki produk kedelai non-fermentasi,” jelas Dr. Ratri.
“Inilah yang membuat tempe istimewa dibandingkan bahan nabati lainnya.”
Peneliti Solo Uji Klinis dan Respon Masyarakat
Dalam tahap uji klinis, tim riset membagi responden menjadi dua kelompok:
- Kelompok A: mengonsumsi 100 gram tempe kedelai setiap hari.
- Kelompok B: mengonsumsi tahu dan susu kedelai dalam jumlah setara.
Setelah enam minggu, kelompok A menunjukkan penurunan kadar LDL rata-rata 20 mg/dL, sedangkan kelompok B hanya 5 mg/dL.
Para responden juga melaporkan peningkatan energi dan pencernaan yang lebih lancar.
“Awalnya kami skeptis, tapi setelah rutin makan tempe, hasil pemeriksaan darah membaik,” ungkap Hendro (46), salah satu peserta penelitian.
Selain manfaat fisiologis, konsumsi tempe juga terbukti meningkatkan diversifikasi mikrobiota usus — faktor penting untuk kesehatan metabolik jangka panjang.
Peneliti Solo Rilis Perbandingan dengan Sumber Protein Lain
Peneliti juga melakukan analisis perbandingan gizi antara tempe dan sumber protein hewani populer seperti daging ayam dan ikan.
Hasilnya cukup mengejutkan: kandungan protein tempe tidak kalah tinggi, namun bebas kolesterol dan rendah lemak jenuh.
| Jenis Protein | Protein (g/100g) | Kolesterol (mg) | Serat (g) | Isoflavon (mg) |
|---|---|---|---|---|
| Tempe kedelai | 19 | 0 | 2.5 | 30 |
| Daging ayam | 23 | 70 | 0 | 0 |
| Ikan laut | 20 | 60 | 0 | 0 |
Sumber: hasil riset UNS Solo
Tempe tidak hanya menjadi pilihan sehat, tetapi juga lebih ramah lingkungan karena proses produksinya membutuhkan energi lebih rendah dibandingkan protein hewani.
H3: Potensi untuk Terapi Nutrisi Nasional
Hasil riset ini membuka peluang besar bagi pengembangan program gizi masyarakat berbasis pangan lokal.
Tim peneliti UNS kini tengah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Riset Nasional untuk menjadikan tempe sebagai bagian dari menu terapi nutrisi bagi penderita hiperkolesterolemia.
“Kami ingin menjadikan tempe sebagai ikon pangan fungsional Indonesia,” ujar Dr. Ratri.
“Dengan biaya murah dan ketersediaan luas, manfaatnya bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat.”
Selain itu, tempe juga sedang diteliti untuk potensi lain seperti pengendalian tekanan darah dan gula darah berkat efeknya terhadap sistem metabolik tubuh.
H3: Edukasi Gizi di Sekolah dan Rumah Tangga
Melihat hasil penelitian tersebut, pemerintah daerah Solo mulai mengintegrasikan edukasi gizi berbasis pangan tradisional ke dalam kurikulum sekolah dasar.
Anak-anak diajak mengenal proses pembuatan tempe serta manfaatnya untuk tubuh.
Guru gizi juga bekerja sama dengan produsen tempe lokal untuk membuat program “Tempe Day” setiap Jumat, di mana siswa membawa bekal berbahan dasar tempe, seperti tempe goreng, tumis tempe, atau burger tempe.
“Kami ingin anak-anak bangga makan makanan lokal yang sehat,” kata Sri Astuti, guru SD di Laweyan.
Langkah sederhana ini diyakini dapat membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini dan mendukung gerakan nasional gizi seimbang.
Refleksi: Dari Dapur Tradisional ke Laboratorium Modern
Temuan ini menegaskan kembali nilai tempe sebagai warisan kuliner sekaligus inovasi ilmiah Indonesia.
Dari dapur tradisional hingga laboratorium modern, tempe membuktikan bahwa pangan lokal bisa bersaing dengan produk fungsional global.
Kedepannya, para peneliti berharap tempe bisa diolah menjadi produk nutraceutical modern seperti snack protein rendah lemak atau suplemen berbasis fermentasi alami.
“Kita punya sumber superfood asli Indonesia,” ujar Dr. Ratri.
“Tempe bukan makanan kampung, tapi makanan masa depan.”
Dengan cita rasa yang akrab dan manfaat ilmiah yang terbukti, tempe kedelai kini tidak hanya disukai di meja makan, tapi juga mendapat tempat di dunia riset kesehatan global.
Baca Juga: “8 Ciri-Ciri Produk Ramah Lingkungan yang Wajib Diketahui agar Tak Salah Pilih“











