kreatifnusantara.id – Tren mode berkelanjutan mendapat angin segar lewat pameran bertajuk “Reborn Fashion” yang digelar oleh komunitas ArtRecycle Parepare. Dalam acara tersebut, puluhan desainer muda memamerkan busana kreatif hasil daur ulang limbah tekstil yang diolah menjadi karya mode bernilai tinggi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah bukan akhir dari kreativitas. Dari sisa kain pun bisa lahir karya elegan dan penuh makna,” ujar Lina Marzuki, ketua ArtRecycle Parepare.
Baca Juga: “Riset Kendari Ungkap Khasiat Bayam Merah bagi Regenerasi Kulit“
ArtRecycle Parepare Pamerkan Dari Sisa Kain Menjadi Karya Seni Mode
Pameran yang digelar di Gedung Kesenian Parepare ini menampilkan lebih dari 50 rancangan busana yang seluruhnya dibuat dari bahan bekas, seperti potongan kain jahit, celana denim rusak, hingga tirai lama. Para desainer memadukannya dengan sentuhan modern — mulai dari gaya kasual, etnik, hingga avant-garde.
“Kami tidak sekadar membuat pakaian, tapi mengubah cara pandang terhadap mode,” jelas Rizka Nurhaliza, salah satu peserta pameran.
Busana hasil daur ulang ini dibuat dengan teknik tambal-sulam (patchwork), pewarnaan alami dari daun indigo dan kulit mahoni, serta pola asimetris yang mencerminkan kebebasan berekspresi.
Jenis karya mode yang dipamerkan:
- Jaket denim kombinasi batik bekas.
- Gaun malam dari potongan tirai.
- Tas tangan dari sisa bordir dan kain goni.
- Aksesori kepala berbahan renda bekas.
Setiap busana dipajang dengan narasi cerita, menjelaskan asal-usul bahan dan pesan lingkungan yang ingin disampaikan.
ArtRecycle Parepare Edukasi Mode Ramah Lingkungan
Tak hanya pameran busana, acara ini juga menghadirkan sesi talkshow dan lokakarya untuk mengedukasi masyarakat tentang konsep sustainable fashion. Pengunjung diajak memahami dampak industri tekstil terhadap lingkungan serta cara sederhana untuk mengurangi limbah pakaian di rumah.
“Kita bisa mulai dari hal kecil seperti memperbaiki pakaian lama atau membeli produk lokal yang berkelanjutan,” tutur Lina.
Lokakarya yang dipandu oleh desainer lokal menghadirkan pelatihan membuat tote bag dari sisa kain perca dan aksesoris dari tali rafia bekas. Peserta antusias karena bisa membawa pulang hasil karyanya sendiri sekaligus belajar prinsip zero waste fashion.
Poin utama edukasi ArtRecycle Parepare:
- Mengurangi budaya konsumtif dalam membeli pakaian.
- Mengutamakan bahan alami dan daur ulang.
- Mendukung desainer lokal dengan konsep ramah lingkungan.
- Menjadikan busana sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
“Mode bukan hanya tentang tren, tapi juga tentang kesadaran,” ujar Desi Andriani, narasumber dari komunitas EcoFashion Sulsel.
Kolaborasi Kreatif dengan UMKM dan Komunitas
ArtRecycle Parepare tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng UMKM tekstil, pengrajin lokal, dan pelajar sekolah mode untuk berkolaborasi dalam menciptakan karya. Beberapa UMKM bahkan menyumbangkan sisa bahan jahit dan kain perca dari proses produksi mereka.
Selain itu, pameran ini juga melibatkan komunitas lingkungan dan seni rupa untuk memperkuat pesan keberlanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini menciptakan sinergi antara ekonomi kreatif dan kesadaran ekologis.
Bentuk kolaborasi yang dilakukan:
- Donasi bahan kain sisa dari konveksi lokal.
- Pembuatan aksesori oleh pengrajin perempuan Parepare.
- Dekorasi instalasi pameran dari limbah plastik.
- Kampanye #WearResponsibly di media sosial.
“Kami ingin industri mode tumbuh tanpa merusak bumi,” ujar Lina menegaskan.
Dukungan Pemerintah dan Respons Publik
Pemerintah Kota Parepare melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut memberi dukungan terhadap kegiatan ini. Mereka menilai acara seperti ini berperan penting dalam mendorong kreativitas berbasis keberlanjutan serta membuka peluang bagi desainer muda untuk berkembang.
“ArtRecycle Parepare menjadi contoh bahwa seni dan lingkungan bisa berjalan seiring,” ujar Rahmat Arifin, Kepala Dinas Parekraf Parepare.
Antusiasme pengunjung terlihat tinggi, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Banyak yang mengaku terinspirasi untuk mulai membuat busana dari bahan bekas atau memperpanjang usia pakaian yang dimiliki.
Respon positif masyarakat:
- 80% pengunjung mengaku lebih sadar pentingnya daur ulang tekstil.
- 60% tertarik membeli produk mode lokal berkelanjutan.
- Banyak pengunjung membagikan foto pameran di media sosial dengan tagar #ArtRecycleParepare.
“Setiap karya di sini bukan hanya indah, tapi punya cerita,” ungkap Fira (22), pengunjung asal Sidrap.
Masa Depan Mode Daur Ulang di Parepare
Melihat antusiasme besar masyarakat, ArtRecycle Parepare berencana membuat galeri permanen yang menampilkan karya mode berkelanjutan dari desainer lokal. Selain itu, mereka akan mengadakan pelatihan rutin untuk pelajar sekolah menengah yang tertarik pada bidang mode ramah lingkungan.
“Kami ingin menjadikan Parepare sebagai kota mode hijau Indonesia Timur,” kata Lina penuh optimisme.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Parepare dalam peta industri kreatif nasional, sekaligus membangun kesadaran bahwa keindahan sejati dalam mode adalah keseimbangan antara estetika dan tanggung jawab terhadap alam.
Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, ArtRecycle Parepare membuktikan bahwa sisa kain pun bisa bercerita, menjadi karya mode penuh gaya yang membawa pesan besar: bumi yang lestari dimulai dari pilihan sederhana di lemari kita.
Baca Juga: “7 Contoh Makanan Organik yang Sehat dan Penuh Nutrisi“










