kreatifnusantara.id — Ubi ungu, bahan pangan sederhana yang mudah ditemui di pasar tradisional, kini kembali menarik perhatian dunia medis. Di Palopo, sekelompok dosen dari Fakultas Kesehatan dan Sains Universitas Cokroaminoto melakukan penelitian mendalam mengenai khasiat ubi ungu untuk menurunkan tekanan darah tinggi.
Riset ini berangkat dari fenomena meningkatnya kasus hipertensi di Sulawesi Selatan, terutama pada kelompok usia produktif.
Para peneliti berupaya menemukan alternatif alami berbasis pangan lokal yang mampu membantu masyarakat menjaga tekanan darah tanpa ketergantungan obat kimia.
“Ubi ungu mengandung senyawa antosianin yang bekerja seperti pelindung pembuluh darah alami,” jelas Dr. Nirmala Sari, dosen dan peneliti utama studi tersebut.
Baca Juga: “Universitas Gorontalo Teliti Antioksidan pada Teh Rosella Organik“
Dosen Palopo Bahas Kandungan Aktif dalam Ubi Ungu
Tim peneliti memaparkan bahwa ubi ungu kaya akan antosianin, flavonoid, dan polifenol, yang berperan penting dalam melawan radikal bebas dan menjaga elastisitas pembuluh darah.
Senyawa ini juga membantu memperbaiki sirkulasi darah serta menurunkan tekanan pada sistem kardiovaskular.
Beberapa kandungan utama yang ditemukan antara lain:
- 💜 Antosianin: pigmen ungu alami yang berfungsi sebagai antioksidan kuat.
- 🌿 Serat pangan tinggi: membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).
- 💧 Kalium: menyeimbangkan kadar natrium dalam darah, menekan risiko hipertensi.
- 🍠 Vitamin C dan E: memperkuat dinding pembuluh darah dan meningkatkan daya tahan tubuh.
“Secara ilmiah, konsumsi ubi ungu dua hingga tiga kali seminggu bisa membantu mengontrol tekanan darah,” ujar Nirmala.
Dosen Palopo Bahas Uji Laboratorium dan Hasil Awal Positif
Dalam penelitian yang berlangsung selama tiga bulan, tim menggunakan 40 responden dengan tekanan darah tinggi ringan.
Mereka diberi menu makanan yang mengandung 150 gram ubi ungu rebus setiap hari, sementara kelompok pembanding tetap mengonsumsi pola makan normal.
Hasilnya cukup signifikan: rata-rata tekanan darah sistolik menurun 8–10 mmHg, sementara tekanan diastolik turun hingga 6 mmHg setelah enam minggu.
“Efeknya memang tidak secepat obat, tapi alami dan berkelanjutan,” kata Dr. Aulia Rahman, anggota tim riset.
Selain penurunan tekanan darah, kadar kolesterol dan gula darah juga menunjukkan tren perbaikan tanpa efek samping yang berarti.
Dosen Palopo Bahas Potensi Sebagai Pangan Fungsional Lokal
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan pangan fungsional berbasis bahan lokal.
Ubi ungu tidak hanya kaya gizi, tetapi juga mudah dibudidayakan di daerah tropis seperti Sulawesi Selatan.
Dinas Ketahanan Pangan Palopo bahkan berencana menjadikan ubi ungu sebagai komoditas unggulan lokal.
Rencana ini melibatkan petani muda dan kelompok wanita tani untuk memproduksi olahan sehat seperti tepung ubi ungu, keripik rendah garam, dan susu fermentasi berbasis umbi.
“Kami ingin hasil riset ini berlanjut pada industri pangan lokal, bukan berhenti di laboratorium,” ujar Nirmala.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendorong masyarakat hidup lebih sehat melalui pangan alami.
Edukasi Masyarakat Lewat Program Kampus Sehat
Sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, kampus juga mengadakan Program Kampus Sehat Palopo, yang mengedukasi warga tentang pola makan dan gaya hidup seimbang.
Mahasiswa gizi turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah gratis dan memberikan paket edukatif tentang konsumsi ubi ungu.
Warga diajak memahami bahwa pola makan rendah garam, tinggi serat, dan kaya antioksidan lebih efektif dalam menjaga tekanan darah daripada hanya mengandalkan suplemen.
“Kami melihat perubahan nyata. Banyak warga mulai rutin makan ubi rebus sebagai camilan sore,” tutur Fadli, salah satu mahasiswa peserta program.
Tantangan dan Harapan Peneliti
Meski hasil penelitian awal menjanjikan, tantangan tetap ada.
Masih banyak masyarakat yang menganggap makanan tradisional tidak seefektif obat medis.
Selain itu, ketersediaan ubi ungu berkualitas juga tergantung pada musim panen.
Untuk mengatasinya, tim peneliti bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat untuk mengembangkan varietas unggul tahan cuaca dan memastikan pasokan tetap stabil sepanjang tahun.
“Kami ingin membuktikan bahwa pangan lokal bisa bersaing secara ilmiah, bukan hanya berdasarkan kepercayaan,” tegas Dr. Nirmala.
Langkah berikutnya adalah melakukan penelitian lebih luas dengan jumlah responden lebih banyak untuk memperkuat data ilmiah dan membuka peluang paten produk olahan ubi ungu sebagai minuman fungsional penurun tekanan darah.
Refleksi — Ubi Ungu dan Gaya Hidup Sehat
Riset dosen Palopo ini menunjukkan bahwa solusi kesehatan bisa berasal dari dapur sendiri.
Ubi ungu bukan hanya bahan pangan tradisional, tetapi juga simbol perubahan menuju pola hidup yang lebih alami dan berkelanjutan.
Di tengah tren gaya hidup modern, kembali ke makanan lokal menjadi langkah sederhana namun bermakna.
Dengan kesadaran masyarakat dan dukungan akademik, ubi ungu berpotensi menjadi “superfood lokal” yang membantu Indonesia menghadapi tantangan penyakit degeneratif.
“Kesehatan itu dimulai dari pilihan kecil. Ubi ungu hanyalah contoh bahwa alam sudah memberi yang kita butuhkan,” tutup Nirmala.
Baca Juga: “Sedang Tren di Media Sosial, Berikut Penjelasan Tentang Clean Eating Beserta Tips untuk Menjalaninya“











