kreatifnusantara.id – Di kaki Gunung Lokon yang berhawa sejuk, sekelompok petani muda Desa Tomohon tengah mengubah cara bertani. Mereka meninggalkan metode konvensional yang bergantung pada pestisida dan beralih ke pertanian hidroponik bebas bahan kimia.
Langkah ini menjadikan Tomohon sebagai salah satu pionir desa hijau di Sulawesi Utara.
“Kami ingin buktikan bahwa bertani modern tidak perlu lahan luas atau racun tanaman,” ujar Rendy Kalengkongan, koordinator komunitas Tani Muda Tomohon.
Melalui sistem hidroponik, para petani menanam selada, bayam merah, sawi, hingga kangkung di atas rangkaian pipa air yang tersusun rapi di greenhouse sederhana.
Nutrisi diberikan dalam bentuk larutan mineral alami, sementara pengairan dilakukan dengan pompa tenaga surya.
Baca Juga:”Petani Sidenreng Rappang Olah Nanas Jadi Pakan Ternak Alami“
Desa Tomohon Kembangkan Produksi Bersih dan Hemat Air
Berbeda dengan pertanian tanah biasa, sistem hidroponik menggunakan 90 persen lebih sedikit air.
Air nutrisi yang mengalir ke tanaman akan kembali ke tangki penampungan dan digunakan ulang — membuat siklus tertutup yang efisien.
“Air tidak terbuang sia-sia, dan kami tidak mencemari tanah,” jelas Rendy.
Selain ramah lingkungan, metode ini juga mengurangi risiko penyakit tanaman.
Sayuran tumbuh lebih cepat dan seragam tanpa perlu pestisida sintetis.
Dalam satu kali panen, petani bisa memanen hingga 300 kilogram selada segar dari lahan 100 meter persegi.
Keunggulan Sistem Hidroponik Tomohon
- 💧 Hemat air hingga 90% dibanding pertanian konvensional.
- 🌿 Tanpa pestisida, aman untuk konsumsi keluarga.
- ☀️ Gunakan energi surya sebagai sumber listrik pompa.
- 🥬 Hasil panen lebih cepat, hanya 25 hari masa tanam.
Setiap hasil panen langsung dijual ke pasar lokal, hotel, dan kafe di kawasan wisata Tomohon dan Manado, dengan label “Fresh from Local Greenhouse.”
Desa Tomohon Kembangkan Dukungan Pemerintah dan Kampus Lokal
Inovasi ini mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Tomohon dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Mahasiswa pertanian membantu petani dalam riset komposisi nutrisi alami dari ekstrak rumput laut dan kulit pisang — dua bahan lokal yang melimpah di Sulawesi Utara.
“Kami ingin menjadikan desa ini laboratorium hidup untuk pertanian berkelanjutan,” ujar Dr. Veronika Lengkong, dosen pembimbing Unsrat.
Kolaborasi ini juga memperkenalkan teknologi sensor digital sederhana yang dapat memantau kadar pH air dan suhu di setiap bak tanam.
Melalui ponsel, petani bisa mengetahui kapan harus mengganti larutan nutrisi atau menambah air.
Pemerintah desa turut menyediakan bantuan modal awal berupa pompa air, pipa PVC, dan bibit unggul, agar semakin banyak warga tertarik mencoba sistem ini di halaman rumah.
Desa Tomohon Kembangkan Peran Komunitas dan Edukasi Anak Muda
Gerakan hidroponik di Tomohon berkembang cepat berkat komunitas “GreenSprout Tomohon.”
Komunitas ini beranggotakan puluhan anak muda yang tertarik pada pertanian modern dan ingin membangun kemandirian pangan.
“Kami bukan hanya jual sayur, tapi juga mengajarkan masyarakat untuk menanam sendiri,” kata Rendy.
Mereka rutin mengadakan kelas mingguan di balai desa untuk melatih warga membuat instalasi hidroponik mini dari botol bekas.
Anak-anak sekolah dasar pun diajak menanam selada dan cabai mini di rak bambu, bagian dari program “Sekolah Hijau Tomohon.”
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat.
Banyak keluarga mulai menanam sayuran di pekarangan kecil, bahkan di balkon rumah.
“Kami ingin generasi muda kembali mencintai tanah dan pangan lokal, meski melalui teknologi modern,” tambah Rendy.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Sejak program berjalan dua tahun lalu, pendapatan petani hidroponik di Tomohon meningkat hingga 40 persen.
Sayuran hidroponik bebas pestisida dihargai lebih tinggi, terutama oleh kafe dan hotel yang mengutamakan bahan segar dan organik.
“Dulu kami kirim sayur ke kota, sekarang pembeli datang langsung ke sini,” ujar Yohana, salah satu petani perempuan di Tomohon.
Dari sisi lingkungan, penurunan penggunaan pestisida membuat populasi serangga alami seperti lebah dan kupu-kupu meningkat kembali.
Air sungai di sekitar kawasan juga terpantau lebih jernih berdasarkan hasil uji komunitas lingkungan GreenLab Sulut.
Tantangan dan Arah Pengembangan
Meski sukses, program ini belum lepas dari tantangan.
Harga pupuk cair alami masih tinggi karena bahan baku harus diproses manual.
Selain itu, petani menghadapi kesulitan saat musim hujan panjang yang mengganggu kestabilan suhu greenhouse.
“Kami sedang kembangkan atap transparan otomatis yang bisa menyesuaikan cuaca,” kata Veronika.
Ke depan, Desa Tomohon berencana membentuk koperasi hidroponik untuk mengatur distribusi, penyimpanan, dan pemasaran produk ke supermarket di Manado.
Pemerintah juga menargetkan ekspor perdana ke Singapura dalam dua tahun ke depan untuk sayuran premium hasil desa ini.
Refleksi: Desa Hijau yang Mandiri dan Modern
Transformasi Desa Tomohon menjadi sentra hidroponik bebas pestisida membuktikan bahwa kemajuan teknologi bisa berjalan selaras dengan kelestarian alam.
Inovasi sederhana, dukungan komunitas, dan semangat generasi muda menciptakan model pertanian modern yang berakar pada kearifan lokal.
“Kami tidak hanya menanam sayur, kami menanam masa depan,” ujar Rendy tersenyum.
Dengan udara segar pegunungan, barisan pipa putih berisi sayuran hijau, dan semangat kolaborasi warga, Tomohon kini menjadi contoh nyata bagaimana desa bisa menjadi pelopor pertanian hijau Indonesia.
Baca Juga: “Mahasiswa UGM Bikin Mulsa Berbahan Eceng Gondok dan Limbah Cangkang Telur“











