kreatifnusantara.id — Sebuah riset Kendari yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Farmasi dan Bioteknologi Universitas Halu Oleo (UHO) berhasil menemukan potensi besar bayam merah (Amaranthus tricolor) dalam mempercepat regenerasi kulit manusia.
Penelitian ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa ekstrak daun bayam merah memiliki kandungan antioksidan tinggi dan senyawa bioaktif yang mampu mempercepat penyembuhan luka serta memperbaiki jaringan kulit rusak.
“Bayam merah bukan hanya sayuran bergizi, tapi juga bahan alami yang potensial untuk dikembangkan menjadi produk perawatan kulit berbasis herbal,” jelas Dr. Nurfitria, M.Biomed, ketua tim riset UHO Kendari, dalam konferensi pers kampus.
Temuan ini memperkuat posisi Kendari sebagai salah satu pusat penelitian bahan alam tropis di kawasan timur Indonesia yang berfokus pada kosmetik dan kesehatan berbasis sumber daya lokal.
Baca Juga: “Petani Ternate Terapkan Tanam Vertikal Organik di Lahan Terbatas“
Riset Kendari Ungkap Kandungan Aktif dan Mekanisme Regenerasi
Dalam riset Kendari tersebut, peneliti melakukan ekstraksi daun bayam merah menggunakan etanol 70 % dan menguji efeknya terhadap sel fibroblas manusia. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi kolagen dan aktivitas enzim antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD).
Kandungan Bioaktif Utama Bayam Merah
| Komponen Aktif | Kandungan | Manfaat untuk Kulit |
|---|---|---|
| Betasianin | Tinggi | Meningkatkan sirkulasi darah dan mempercepat penyembuhan luka |
| Flavonoid | Sedang | Menangkal radikal bebas dan melindungi kulit dari polusi |
| Asam askorbat (vitamin C alami) | Tinggi | Merangsang produksi kolagen dan elastin |
| Polifenol | Sedang | Mengurangi peradangan dan kemerahan pada kulit |
| Antosianin | Tinggi | Menjaga warna kulit tetap cerah dan sehat |
Menurut Dr. Nurfitria, efek regeneratif ini disebabkan oleh interaksi senyawa antioksidan yang mendorong pembentukan jaringan kulit baru serta memperlambat proses penuaan dini akibat stres oksidatif.
Riset Kendari Ungkap Aplikasi dalam Produk Kosmetik Herbal
Tim riset Kendari bekerja sama dengan laboratorium kosmetik lokal untuk mengembangkan krim herbal bayam merah dan gel penyembuh luka ringan.
Produk ini masih dalam tahap uji keamanan kulit (dermatology test) dan rencananya akan dipatenkan pada tahun 2026.
Rencana Pengembangan Produk
- Gel luka alami: diformulasikan untuk membantu regenerasi kulit setelah luka gores dan jerawat.
- Krim anti-aging herbal: mengandalkan kombinasi ekstrak bayam merah dan lidah buaya.
- Masker wajah alami: membantu menenangkan kulit dan memperlambat kerutan.
“Uji praklinis menunjukkan tidak ada reaksi iritasi, bahkan kulit tampak lebih lembap setelah dua minggu pemakaian,” ujar Fitri Andayani, peneliti muda yang ikut mengembangkan formula krim.
Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Industri Riset Kendari
Keberhasilan riset Kendari ini mendapat dukungan dari Balai Riset dan Inovasi Daerah Sulawesi Tenggara (BRIDA Sultra) yang berkomitmen membantu hilirisasi hasil penelitian menuju industri kosmetik herbal nasional.
Bentuk Dukungan yang Diberikan
- Pendanaan penelitian lanjutan untuk tahap uji klinis dan standardisasi bahan baku.
- Kolaborasi dengan UMKM kosmetik lokal agar hasil riset bisa diproduksi secara massal.
- Pelatihan kewirausahaan riset bagi mahasiswa dan tenaga laboratorium.
- Sertifikasi halal dan BPOM agar produk siap dipasarkan secara nasional.
Kepala BRIDA Sultra, Dr. La Ode Rafi, menuturkan bahwa potensi bahan alami Sulawesi Tenggara perlu dimanfaatkan maksimal.
“Bayam merah tumbuh subur di Kendari. Dengan penelitian seperti ini, kita tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tapi juga kemandirian ekonomi berbasis bahan alam lokal,” ujarnya.
Dampak terhadap Industri Kosmetika Lokal
Temuan ini membuka peluang besar bagi pelaku industri perawatan kulit di wilayah Indonesia Timur. Banyak pelaku UMKM kosmetik mulai melirik penggunaan bahan alami seperti bayam merah, kelor, dan daun sirih sebagai bahan dasar produk.
Keunggulan Bahan Alami Lokal
- Ramah lingkungan: tidak membutuhkan proses kimia berat dalam ekstraksi.
- Biaya produksi lebih rendah: bahan baku mudah diperoleh di sekitar Kendari.
- Nilai tambah ekonomi: mendorong petani lokal untuk membudidayakan bayam merah secara berkelanjutan.
- Daya saing ekspor tinggi: tren global menuju clean beauty dan kosmetik alami.
Menurut data Dinas Perindustrian Kendari, produk kosmetik berbasis bahan alami meningkat 27 % dalam dua tahun terakhir, dengan potensi nilai pasar mencapai Rp45 miliar per tahun.
Tantangan Penelitian dan Standarisasi
Meski menjanjikan, pengembangan bahan alami seperti bayam merah tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Peneliti masih harus memastikan stabilitas senyawa aktif dalam penyimpanan jangka panjang, serta menguji efektivitasnya pada berbagai jenis kulit.
Langkah Strategis Tim Riset Kendari
- Melakukan uji stabilitas formula di suhu tropis dan lembap.
- Menjalin kerja sama dengan universitas di Makassar dan Yogyakarta untuk validasi hasil.
- Mengembangkan bank bahan aktif alami untuk riset berkelanjutan.
- Mengedukasi masyarakat agar tidak sekadar meniru produk tanpa uji laboratorium.
“Kami ingin hasil penelitian ini bukan hanya berhenti di jurnal, tapi benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Dr. Nurfitria.
Kesimpulan: Potensi Herbal Tropis dari Kendari
Melalui riset inovatif ini, Riset Kendari membuktikan bahwa tanaman sederhana seperti bayam merah dapat menjadi sumber daya berharga bagi industri kesehatan dan kosmetik modern.
Dengan kombinasi riset ilmiah, dukungan pemerintah, dan partisipasi industri lokal, Kendari perlahan menegaskan perannya sebagai kota riset herbal di kawasan timur Indonesia.
“Bayam merah bukan sekadar sayuran di meja makan — ia adalah laboratorium alam yang siap membawa manfaat besar bagi kesehatan kulit,” tutup Dr. Nurfitria optimistis.
Baca Juga: “9 Contoh Makanan Organik yang Kaya Akan Gizi dan Nutrisi“











