kreatifnusantara.id – Di tengah padatnya permukiman dan semakin sempitnya lahan pertanian di Kota Ternate, sekelompok petani muda menemukan cara baru menanam yang efisien: sistem tanam vertikal organik.
Konsep ini memungkinkan mereka menanam sayuran, cabai, dan rempah di lahan sekecil pekarangan rumah tanpa kehilangan produktivitas.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan berhenti bertani,” ujar Haris Djumadil (34), salah satu penggagas komunitas Ternate GreenFarm.
Sistem ini menggunakan rangka pipa PVC bertingkat dengan media tanam campuran tanah, sekam, dan kompos.
Air dan nutrisi dialirkan melalui sistem irigasi tetes sederhana yang bisa dibuat dari botol bekas.
Baca Juga: “Petani Wonosobo Produksi Kopi Organik Sindoro untuk Ekspor“
Petani Ternate Terapkan Teknik Vertikal yang Ramah Lingkungan
Teknik tanam vertikal organik di Ternate mengadopsi prinsip zero waste — tidak ada bahan yang terbuang sia-sia.
Air sisa siraman dikumpulkan kembali dan dipakai ulang, sementara limbah dapur rumah tangga diolah menjadi pupuk cair alami.
Menurut Haris, metode ini mampu menghemat air hingga 60 persen dibanding sistem tanam konvensional.
Selain itu, tidak diperlukan pestisida kimia karena mereka menggunakan campuran ekstrak daun pepaya dan serai untuk mengusir hama.
Langkah Dasar Sistem Vertikal Organik
- 🌱 Susun pipa atau rak bertingkat setinggi dua meter.
- 💧 Pasang irigasi tetes dari botol bekas yang mengalir perlahan.
- 🍂 Gunakan media tanam organik dari tanah dan kompos.
- ☀️ Pastikan pencahayaan alami cukup untuk fotosintesis.
- 🔄 Gunakan ulang air dan limbah organik setiap minggu.
“Kami ingin pertanian jadi gaya hidup baru yang lebih bersih dan sederhana,” jelas Haris.
Petani Ternate Terapkan Dukungan Komunitas dan Pemerintah Daerah
Gerakan tanam vertikal ini mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Ternate, terutama karena mampu menjadi contoh pertanian perkotaan berkelanjutan.
Kepala dinas Syarif Abdullah menyebut model ini relevan dengan tantangan kota pesisir yang memiliki lahan sempit namun kebutuhan pangan tinggi.
“Kami mulai mendorong konsep urban farming di sekolah dan rumah tangga. Program GreenFarm bisa jadi percontohan,” katanya.
Kini, sudah ada lebih dari 120 rumah tangga di Kelurahan Kalumpang dan Dufa-Dufa yang meniru sistem ini untuk memenuhi kebutuhan sayur harian.
Sebagian bahkan menjual hasil panen seperti kangkung, pakcoy, dan tomat organik ke pasar lokal dan restoran kecil.
Petani Ternate Terapkan Efisiensi Ekonomi dan Lingkungan
Selain hemat lahan, sistem ini juga terbukti menekan biaya operasional hingga 40 persen.
Petani tak lagi perlu membeli pupuk kimia karena memanfaatkan sisa sayur dan buah busuk untuk membuat kompos padat.
Sitti Maryam (45), salah satu anggota kelompok tani wanita, mengaku sejak menggunakan sistem vertikal organik, penghasilannya meningkat dua kali lipat.
“Dulu cuma panen seminggu sekali, sekarang bisa dua kali dan hasilnya lebih segar,” ujarnya sambil menunjukkan rak tanaman di halaman rumahnya.
Selain itu, kualitas tanah tetap terjaga karena tidak ada bahan kimia berbahaya.
Masyarakat sekitar pun mulai tertarik menerapkan sistem serupa, terutama mereka yang tinggal di kawasan perumahan padat.
H3: Inovasi Digital dan Edukasi Petani Muda
Menariknya, komunitas GreenFarm kini menggabungkan sistem tanam vertikal dengan sensor kelembapan digital yang terhubung ke aplikasi ponsel.
Sensor ini akan mengingatkan pengguna kapan tanaman perlu disiram atau diberi pupuk cair.
“Kami kerja sama dengan mahasiswa Politeknik Ternate untuk pengembangan alat ini,” ujar Haris.
Selain teknologi, komunitas juga aktif mengadakan pelatihan daring melalui platform edukasi agrikultur lokal “GrowTernate.”
Peserta bisa belajar cara meracik pupuk organik, mengatur irigasi, hingga menghitung efisiensi panen.
Langkah ini menjadikan pertanian vertikal bukan hanya kegiatan ekonomi, tapi juga gerakan literasi lingkungan digital di kalangan muda Ternate.
H3: Tantangan dan Rencana ke Depan
Meski menjanjikan, penerapan sistem ini masih menghadapi kendala seperti biaya awal pembuatan rak vertikal dan minimnya kesadaran masyarakat tentang pertanian organik.
Namun komunitas GreenFarm optimistis karena banyak dukungan datang dari sektor pendidikan dan koperasi lokal.
“Kami sedang kembangkan model pembiayaan mikro agar warga bisa mulai dengan modal kecil,” ujar Syarif dari Dinas Pertanian.
Ke depan, program ini akan diperluas ke pulau-pulau sekitar seperti Tidore dan Halmahera Barat, dengan target 1.000 instalasi vertikal aktif pada tahun depan.
Refleksi: Bertani di Tengah Kota, Berpihak pada Alam
Sistem tanam vertikal organik di Ternate membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang inovasi.
Dengan pendekatan sederhana, petani kota mampu mengubah lahan sempit menjadi ruang hijau produktif yang menopang ekonomi rumah tangga dan lingkungan.
“Kami tak mengejar hasil besar, yang penting bisa panen sendiri dan hidup lebih sehat,” tutup Haris.
Dari lorong-lorong rumah di kota pesisir, gerakan ini tumbuh menjadi simbol ketahanan pangan baru — sederhana, hijau, dan berakar dari tangan masyarakat.
Baca Juga: “Makanan Organik Lebih Sehat daripada Makanan Biasa, Inilah Faktanya“











